Senin, 03 Juni 2013

BERPENAMPILAN BAIK [BUAT PARA PEMUDA]



بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Rasulullah  bersabda yang artinya :
“Kalian akan mendatangi saudara-saudara kalian. Karenanya perbaikilah kendaraan kalian, dan pakailah pakaian yang bagus sehingga kalian menjadi seperti tahi lalat di tengah-tengah umat manusia. Sesungguhnya Allah tidak menyukai sesuatu yang buruk.” [HR. Abu Dawud dan Hakim]
 Saudaraku yang dirahmati Allah…
Penampilan merupakan hal yang cukup penting dalam kehidupan bermasyarakat. Orang yang berpenampilan baik tentu akan lebih dihargai daripada orang yang berpenampilan buruk. Bahkan di Indonesia ada suatu nilai dalam masyarakat Jawa yang mengajarkan “Ajining diri saka lathi, Ajining sarira saka busana”, yang intinya bahwa kehormatan seseorang itu dinilai dari ucapan dan pakaiannya. Suatu nilai yang sebenarnya sudah jauh ditanamkan oleh Rasulullah n.
Namun sayang, terkadang di kalangan pemuda Islam, masalah penampilan ini kerap diabaikan. Dengan alasan “Kalau sudah ngaji itu nggak perlu nggaya-nggaya banget. Pokoknya nutup aurat.”, kita sering melihat pemuda yang pakaiannya terkesan asal-asalan.
Saudaraku yang dirahmati Allah…
Memang sebagai pemuda muslim, kita tidak perlu mengikuti trend fashion yang berubah-ubah. Tdak perlu membeli baju yang mahal. Tidak perlu ikut-ikutan merubah gaya rambut agar dianggap keren. Namun agama ini mengajarkan umatnya untuk berpenampilan bagus, yang bisa menyenangkan orang yang kita temui. Nah, berikut beberapa kriteria “penampilan bagus” yang diajarkan oleh Rasulullah n:

1. RAPI
a. Berpakaian rapi.
Berpenampilan rapi artinya pakaian kita tidak kusut. Jangan sampai kita datang ke pengajian atau shalat berjamaah di masjid dalam kondisi pakaian kita masih banyak bekas-bekas lipatan. Setrikalah pakaian kalian hingga licin sehingga tidak terlihat awut-awutan. Apabila pakaian baru saja digunakan, jangan langsung ditaruh sembarangan, namun digantung menggunakan gantungan pakaian agar tidak kusut.
b. Merapikan rambut.
Selain pakaian, penting juga untuk mengatur rambut kita. Apabila kusut maka sisirlah. Apabila sudah cukup panjang dan mulai susah ditata, lebih baik dipotong. Dari Jabir bin Abdullah c, beliau berkata yang artinya “Rasulullah n datang kepada kami untuk berziarah di rumah kami. Tiba-tiba beliau melihat laki-laki yang kusut rambutnya, maka beliau berkata : “Apakah orang ini tidak mendapatkan sesuatu yang dapat menata rambut kepalanya ?“ [HR. Ahmad dan Nasa’i].
CATATAN:  Namun bagi wanita dilarang untuk memotong rambutnya hingga sangat pendek menyerupai laki-laki. Karena fitrah wanita memang memiliki rambut yang panjang.

2. BERSIH
a. Berpakaian bersih. Bersih artinya bebas dari kotoran. Apabila pakaian kita terkena noda dan tidak bisa dihilangkan, maka cepat-cepat direndam agar mudah dicuci. Sehingga apabila kita menggunakannya kembali, noda-noda tersebut sudah tidak berbekas sehingga terlihat elok kembali. Dari Jabir bin Abdullah c, beliau berkata yang artinya “Rasulullah n datang kepada kami untuk berziarah di rumah kami. Tiba-tiba beliau melihat laki-laki yang pakaiannya kotor, maka beliau berkata : “Apakah orang ini tidak mendapatkan sesuatu yang dapat mencuci bajunya ?” [HR. Ahmad dan Nasa’i]
CATATAN: Jangan lupa mensikat sepatu dan sandal kita. Kan jadi tidak indah bila pakaian kita bersih, namun alas kaki kita penuh kotoran.
b. Berbadan bersih.
Kebersihan bukan hanya menyangkut pakaian, namun juga kebersihan badan kita. Sudah seharusnya kita menjaga kebersihan dengan mandi. Mandi dapat menghilangkan kotoran sehingga menjauhkan seorang muslim dari penyakit dan menjaga agar badannya tidak bau. Wajah yang bersih dan badan yang wangi tentu membuat orang lain suka berinteraksi dengan kita.
Dari Abu Hurairah z, bahwa Rasulullah n bersabda yang artinya “Dari Abi Rofi’, ia berkata, bahwa Rasulullah n pada suatu malam berkeliling mengunjungi beberapa istrinya. Maka beliau mandi setiap keluar dari rumah istri-istrinya. Maka Abu Rofi’ bertanya, ‘Ya, Rasulullah, tidakkah mandi sekali saja?’ Maka jawab Rasulullah n, ‘Ini lebih suci dan lebih bersih.’[HR. Ibnu Majah dan Abu Daud]
c. Bergigi dan mulut bersih.
 Kebersihan gigi juga tidak boleh dilupakan. Orang lain tentu tidak nyaman berbicara dengan orang yang giginya kotor masih ada bekas makanan. Saking pentingnya, Rasulullah n bersabda yang artinya, “Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali berwudhu.” [HR. Muslim]
Gigi yang rajin disikat dengan siwak atau pasta gigi akan terjaga kesehatannya sehingga tidak mudah rusak atau berlubang. Ini juga membuat mulut kita menjadi tidak bau, sehingga orang lain pun nyaman berbicara dengan kita. Rasulullah n bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang makan bawang merah dan bawang putih serta kucai, maka janganlah dia mendekati masjid kami.” [HR. Muslim].
Maksud dari hadits tersebut bukan mengharamkan bawang untuk dimakan, tetapi hendaknya setelah makan makanan yang berbau tajam, kita membersihkan mulut kita agar tidak bau. Apabila kita merasa sudah rajin membersihkan gigi dan mulut kok masih sering bau, maka waspadalah! Ada kemungkinan gigi kita berlubang. Harus segera mengobatinya ke dokter gigi agar tidak terjadi infeksi sehingga pengaruh buruknya tidak menjalar ke anggota tubuh yang lain.
d. Melakukan sunnah yang fitrah.
Rasulullah n bersabda yang artinya, “Lima hal yang termasuk fitrah (kesucian): Mencukur bulu kemaluan, khitan, menipiskan kumis, mencabut bulu ketiak dan memotong kuku.” [HR. Bukhari dan Muslim]
e. Membersihkan kendaraan kita.
Di awal artikel ini sudah disebutkan hadits yang mengajarkan untuk memperbaiki kendaraan. Yang paling mudah tentu membersihkannya. Motor  yang sering kita gunakan untuk bepergian, apabila tidak sempat dicuci, minimal harus sering dilap.
3. INDAH
Berpenampilan indah artinya kita bisa memadukan pakaian kita agar enak dipandang. Bukan berarti harus yang baru dan mahal. Namun artinya pakaian tersebut harus cocok paduannya, sesuai standar masyarakat setempat, asal tidak menyelisihi syariat.
Misal kita mengenakan sarung. Kita tentu menjaga agar sarung kita diatas mata kaki. Namun masyaAllah, jangan sampai karena saking semangatnya, sarung tersebut lebih tinggi dari celana yang kita kenakan dibalik sarung, sampai-sampai celana yang kita gunakan di balik sarung kelihatan (balapan). Ini jelas menyelisihi standar kelaziman dan keindahan yang ada dalam masyarakat kita. Solusinya jangan mengangkat sarung terlalu tinggi, atau kita memilih celana dibalik sarung yang tidak terlalu panjang.
Ini juga berlaku bagi yang ingin mengenakan tsaub (jubah ala saudi). Jangan sampai ujung jubah itu jauh lebih tinggi dari celana di dalamnya. Bahkan apabila ada orang arab yang melihatnya, ia pasti akan merasa ganjil. Apabila tsaub kita memang ujungnya tinggi, lebih baik kita mengenakan sarung.
Juga apabila kita bergaul dengan masyarakat, jangan hanya mengenakan baju koko dengan bawahan sirwal (celana lebar) yang tingginya hanya sebetis. Masyarakat kita memandang bahwa orang yang mengenakan celana seperti itu sebagai pakaian yang tidak sopan. Seperti mau pergi main saja. Pakailah sarung, karena masyarakat Indonesia sudah sejak lama mengenal sarung sebagai pakaian sopan bagi kaum muslimin.
Perhatikan juga paduan warnanya. Jangan sampai misalnya kita berbaju koko merah namun sarungnya hijau. Tentu orang lain melihat perpaduan warna pakaian kita tidak cocok. Masalah keindahan ini memang masalah selera. Namun masyarakat kita sudah memiliki aturan perpaduan dasar dalam berpakaian. Selama itu tidak menyelisihi syariat, bukankah lebih baik kita mengikuti aturan tersebut? “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan” [HR. Muslim, Tirmidzi, dan Ahmad]

           Bahkan apabila kita tidak mengindahkan kelaziman berpakaian dalam masyarakat, ada kemungkinan membuat  mereka menjauh dari dakwah Islam. “Islam itu kok orang-orangnya gak rapi ya? Perpaduan pakaiannya ngawur” . Naaudzubillah min dzaalik. Kita berlindung kepada Allah dari yang demikian.
Karena itulah, sangat penting untuk berusaha menjaga penampilan kita di tengah-tengah masyarakat. Namun jangan memaksakan diri untuk membeli pakaian yang baik Apabila memang kita tidak mampu membeli yang baru dan punyanya hanya itu, tidak mengapa. Yang penting kita tetap menjaga kerapian dan kebersihan penampilan kita.
 4. WANGI
Penting untuk menjaga agar tubuh kita tidak bau ketika berinteraksi dengan orang lain. Apalagi masa remaja biasanya produksi keringat sangat tinggi, dan biasanya bau keringat tersebut sangat tidak sedap.
Solusinya segera mandi bila setelah keringatnya kering, kita. Seusai mandi, gunakanlah penghilang bau badan (deodorant) yang biasanya digunakan di ketiak. Karena memang di lipatan-lipatan tubuh seperti ketiak itulah produksi keringat paling banyak dan berbau tidak sedap.
Juga disunnahkan untuk menggunakan wewangian. Rasulullah n adalah pribadi yang menyenangkan. Orang yang duduk di dekatnya selalu merasa betah karena beliau selalu berbadan wangi.
Anas  menceritakan, “Tidak pernah aku mencium bau wangi atau bau semerbak yang lebih wangi dari bau dan semerbak Nabi n. [HR. Bukhari]
Namun penggunaan wewangian untuk bergaul ke luar rumah ini hanya dibolehkan untuk laki-laki. Wanita hanya boleh menggunakan wewangian di dalam rumahnya, tidak di luar rumah.
Rasulullah bersabda,:
“Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pezina” [HR. An Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad]
 Begitulah saudaraku…
Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa menjaga penampilan. Tujuannya agar umatnya dihargai orang lain, dan agar agama ini terlihat sebagai agama penuh rahmat yang membawa kesejukan bagi seluruh alam.
Allaahu alam

Yang Muda Yang Bertaqwa



PEMUDA  YANG  BERTAKWA
Siapa sih yang tidak mau masuk surga? Tapi, perlu kita ketahui bahwa masuk ke dalam surga itu bukan perkara yang mudah kecuali orang yang dimudahkan oleh Allah. Karena, surga itu dikelilingi dengan sesuatu yang kita benci, sedangkan neraka itu dikelilingi dengan sesuatu yang kita inginkan.
Rasulullah ` pernah bersabda yang artinya,
“Saat Allah menciptakan surga dan neraka, Allah mengutus Malaikat Jibril ke surga. Allah berfirman kepada Jibril, ‘Pergilah, lihat surga dan apa yang Aku persiapkan bagi penghuninya.’ Jibril pun mendatanginya dan melihatnya serta apa yang dipersiapkan bagi penghuninya. Lalu Jibril pun kembali dan mengatakan, ‘Demi Kemuliaan-Mu, tidak ada seseorang yang mendengarnya kecuali ingin memasukinya. Allah pun meliputi surga dengan sesuatu yang dibenci lalu berfirman kepada Jibril, ‘Pergilah, lihat kepadanya dan apa yang Aku persiapkan bagi penghuninya. Jibril pun kembali melihatnya. Ternyata, surga dipenuhi dengan perkara yang dibenci manusia. Jibril pun kembali dan mengatakan, ‘Demi Kemuliaan-Mu, aku takut tidak ada yang memasukinya satu orang pun.’” [H.R. At-Tirmidzi dan An-Nasa`i, Syaikh Al-Albani t mengatakan, “hasan shahih”].
Ajal Yang Hampir Datang
Masihkah berpikir untuk berfoya-foya dan tidak mempersiapkan kehidupan akhirat? Masihkah kita berpikir untuk menunda bertaubat dan memperbaiki diri? Padahal, kita sering mendengar kabar tetangga sebelah mati mendadak tanpa mengidap penyakit. Atau, kita mendengar kabar saudara kita yang kemarin tertawa sekarang berbalut kafan.
Siapa yang tahu kapan datangnya kematian kita. Mungkin dua tahun lagi, mungkin satu tahun, satu bulan, satu minggu, besok, atau mungkin beberapa jam lagi. Siapa yang tahu selain Dzat Yang berada di atas ‘Arsy?
Allah telah berfirman yang artinya, :
“Sesungguhnya di sisi-Nya ilmu hari kiamat dan tentang turunnya hujan, dan Allah mengetahui yang di dalam rahim. Dan tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui apa yang akan dia perbuat, dan tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui di bumi mana ia meninggal. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Meliputi ilmu-Nya.” [Q.S. Luqman:34].

        Tidakkah kita merasa rugi bila ruh kita dicabut sedangkan kita belum sempat beramal shalih? Padahal, amalan shalih adalah bekal kita satu-satunya di akhirat kelak. Bukan harta, bukan pangkat, bukan pula keluarga.
Rasulullah ` pernah bersabda,:
Yang mengiringi jenazah itu ada tiga: keluarganya, hartanya, dan amalannya. Dua darinya akan kembali pulang dan tinggal satu saja (yang menemaninya). Keluarga dan hartanya akan kembali, tinggallah amalannya (yang akan menemaninya).” [H.R. Al-Bukhari dan Muslim].
Dunia hanyalah kesenangan semu yang menipu. Kesenangan di dunia ini bagaikan fatamorgana yang segera pupus. Hendaknya kita berbekal untuk kehidupan sejati kelak.
Rasulullah `Bersabda:
“Apa hubungannya antara aku dengan dunia? Aku di dunia ini hanyalah seperti penunggang yang bernaung di bawah pohon lalu meninggalkannya.” [H.R. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani t].
Allah l juga berfirman:
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, suatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megah antara kalian serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur.  Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” [Q.S. Al-Hadid:20].
Berpayung Naungan Allah
Pada hari kiamat, matahari hanya berjarak satu mil dari atas kepala kita. Saat itu, manusia berkeringat sesuai dengan dosa-dosanya.
Rasulullah ` pernah bersabda,
“Matahari mendekat kepada makhluk pada hari kiamat hingga berjarak satu mil. Maka, manusia pun tercelup ke dalam keringatnya sesuai dengan amalannya. Di antara mereka ada yang tercelup hingga kedua mata kakinya, di antara mereka ada yang tercelup hingga pinggangnya dan di antara mereka ada yang tercelup hingga mulutnya.” [H.R. Muslim].
Saat itu, beberapa golongan orang akan dipayungi oleh Allah l. Golongan-golongan itu adalah orang yang disebutkan dalam hadits Rasul ` berikut ini,
“Tujuh golongan yang Allah naungi dengan naungan-Nya, pada hari tiada naungan selain naungan-Nya: seorang imam yang adil; pemuda yang tumbuh dalam peribadahan kepada Allah; laki-laki yang qalbunya senantiasa terkait dengan masjid; dua orang yang saling mencintai, berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya; seorang laki-laki digoda oleh perempuan yang memiliki kedudukan dan kecantikan, namun dia justru mengatakan, ‘Aku takut kepada Allah’; seseorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak mengetahui yang diberikan oleh tangan kanannya; dan seseorang yang mengingat Allah sendirian, lalu bercucurlah air matanya.” [H.R. Al-Bukhari dan Muslim].
Engkau bisa menjadi salah satunya. Engkau bisa menjadi seorang pemuda yang senantiasa dalam peribadahan kepada Allah.

Lebih Cepat Lebih Baik
Lantas, apa yang engkau tunggu? Apakah engkau menunggu hilangnya nikmat mudamu ini? Apakah engkau menunggu penyesalan di hari tua kelak? Ingatlah, masa mudamu ini tak akan kembali. Maka, pergunakanlah waktu-waktumu di masa muda sebelum masa tuamu menghampiri, merenggut kekuatan dan kemampuanmu. Rasulullah ` pernah mewasiatkan:
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkanlah sebaik-baiknya lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum pikunmu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” [H.R. Al-Hakim, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani t].
Lima nikmat ini adalah nikmat yang baru terasa nilainya ketika kehilangan salah satu darinya. Maka dari itu, Rasulullah ` memerintahkan kita untuk mensyukurinya dengan mempergunakan nikmat-nikmat tersebut untuk beramal.
Nah, demikianlah Islam mewasiatkan kepada kita tentang nikmat yang besar ini. Sebagai akhir dari tulisan ini, marilah kita ingat wasiat dari Ibnu Umar c, “Jika engkau berada pada sore hari maka jangan menunggu paginya dan jika berada pada pagi hari maka jangan menunggu sorenya.” [diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam kitab Shahih beliau].
Allahu a’lam bish shawab.

Awal Mula Kita di syariatkan Puasa



PERMULAAN DISYA’RIATKAN UNTUK MANUSIA BERPUASA
Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan bagi kalian untuk berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian supaya kalian bertaqwa” (QS. Al Baqarāh : 183)

Allah Subhaanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa kewajiban puasa tidak hanya dibebankan kepada umat ini, tetapi juga umat terdahulu. Mengapa? Karena sesuatu yang berat untuk dilaksanakan, jika dilakukan juga oleh orang lain, maka jiwa akan terasa ringan untuk mengerjakannya sehingga hati akan terasa lebih tentram.  Dengan demikian, ibadah puasa adalah kewajiban bagi seluruh umat meskipun terdapat perbedaan tata cara dan waktu pelaksanaannya.
PUASA PADA AWAL ISLAM MUNCUL
Di awal-awal Islam, puasa belum diwajibkan atas setiap individu. Para sahabat diberikan pilihan antara menjalankan puasa atau membayar fidyah. Allāh Ta’ala berfirman,

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ

Dan bagi mereka yang berat berpuasa maka wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Dan barang siapa yang dengan senang hati berbuat kebajikan (memberi makan lebih dari seorang miskin), maka itu lebih baik baginya. Dan jika kalian berpuasa, maka itulah yang lebih baik bagi kalian” (QS. Al Baqarāh : 184)

Kemudian sistem pemberian pilihan ini dihapus dan puasa mulai diwajibkan bagi setiap individu berdasarkan firman Allāh,

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Barangsiapa diantara kamu hadir (di negri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka berpuasalah” (QS. Al Baqarāh : 185)

Hikmahnya

Hikmah terjadinya perubahan hukum ini adalah pemberlakuan syari’at secara bertahap dan juga bentuk kelembutan terhadap umat Islam. Ketika puasa adalah sesuatu yang tidak biasa mereka lakukan, maka mewajibkannya secara langsung adalah sesuatu yang menyulitkan. Oleh karena itu, pada awalnya para sahabat diberi pilihan, mau puasa atau bayar fidyah. Tatkala keimanan sudah kokoh, jiwa sudah tentram, dan mereka sudah terlatih berpuasa, akhirnya diwajibkanlah puasa. Dan seperti inilah metode pemberlakuan syari’at Islam lainnya yang tergolong ‘berat’, yakni dengan cara bertahap.

Adapun orang yang tidak berpuasa karena sedang sakit biasa (yang masih bisa sembuh) atau karena safar, maka mereka wajib meng-qaḍa puasa berdasarkan firman Allāh Ta’ala,

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Barangsiapa diantara kamu hadir (di negri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa yang sedang sakit atau safar (lalu berbuka), maka wajib menggantinya di hari lainnya” (QS. Al Baqarāh : 185)


Kapan puasa RamaDHan diwajibkan?
Puasa Ramaḍan diwajibkan pada tahun ke-2 H. Lalu Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sempat berpuasa Ramaḍan selama 9 tahun sehingga puasa Ramaḍan menjadi salah satu rukun Islam. Barangsiapa yang mengingkari kewajiban puasa Ramaḍan, maka ia kafir. Dan barangsiapa yang tidak berpuasa tanpa alasan –selama masih meyakini wajibnya puasa Ramaḍan-, maka dia telah melakukan dosa besar dan wajib dihukum oleh pihak yang berwenang dan dia wajib bertaubat kepada Allāh, serta meng-qaḍa puasa yang ia tinggalkan.

Wallāhu a’lam.

Minggu, 02 Juni 2013

Tidak Dapat iLmu Tapi Dapat Tauladan,,, Masya Allah!


PERHATIKANLAH FAEDAH !


Pengalaman Ustadz Arif M. Sunusi di Riyadh, Saudi Arabia.
(Adik Kandung Al-Ustadz Dzulqarnain & Al-Ustadz Khidir bin Muhammad Sunusi hafizhahumullah)

 " TIDAK DAPAT ILMU, TAPI DAPAT TAULADAN"


Bismillah,

     Alarmku berdering, waktu menunjukkan pukul 03.30 fajar hari ahad, akupun berwudhu, kemudian pergi menuju ke parkiran asrama kampus. Disana saya bertemu Abdullah, sahabat saya orang Perancis sedang menghidupkan mobilnya, mobil yang begitu sederhana yang kami selalu menggunakannya menghadiri majlis2 Masyaikh di Riyadh.

Kami berdua bertekad untuk hadir subuh itu di majlis seorang 'alim masa ini, untuk mengambil ilmu darinya, namanya tak asing dikalangan lawan dan kawan, Asy-Syaikh Shaleh Al-Fauzan - hafizhahulloh - namanya.
            

Subuh itu adalah pelajaran Kitab At-Tauhid, dan ini adalah awal kali kami berangkat ke dars fajar beliau, kami pun tiba di masjid beliau sedangkan masih ada 15/20 menit lagi adzan dikumandangkan.

            Yang terpikir dibenak kami berdua waktu segini mana ada orang di masjid, pasti masjidnya belum buka, tapi kami melihat lampu masjid menyala dan memungkinkan masjid sudah terbuka, maka kami berdua masuk sambil menenteng buku kami, ternyata,,,,,sudah ada orang yang duduk menunggu sholat fajar sedangkan adzan masih lama lagi dikumandangkan, dia duduk tepat di belakang tempat imam,,,,,kami berdua berjalan sedangkan orang tersebut memandang melihat kami,,,,,

            Kami pun mendekat, kemudian mendekat,,,,ternyata orang itu adalah Asy-Syaikh Al-Fauzan, Subhanallah,,,,dalam hati aku berkata : "wajar Syaikh ini Allah Ta'ala memberikan beliau lautan ilmu, karena beliau orang yang mengamalkan ilmunya", aku pun terteladani oleh ketaqwaan beliau, terdidik dengan amalan beliau -hafizhahulloh-.

            Singkatnya,,,kemudian adzan pun dikumandangkan dan sholat, kemudian setelah itu kami duduk menunggu Syaikh mengajar,,,,,,tapi aneh terasa kayaknya hanya kami berdua membawa buku,,,,,salah seorang jama'ah menegur kami sambil berkata : "hari ini tidak ada pelajaran, besok ada pelajaran ",,,,,kami pun malu, cuman semangat tapi gak tau informasi,,,,,

Tapi terjadilah apa yang terjadi dengan izin Allah Ta'ala,,,,kami berdua lelah dan capek.

"Kami tak mendapatkan ilmu dari beliau, akan tetapi kami mendapatkan tauladan dari beliau".

          Semoga Bermanfaat !
           Baarakallahufiykum..