Tampilkan postingan dengan label NASEHAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NASEHAT. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Mei 2013

SYIRIK Meminta Syafa'at Kepada Orang Mati

SYIRIK
Meminta Syafa'at Kepada Orang Mati

Di samping alasan tawassul sebagai-mana telah disinggung pada edisi yang lalu, alasan lainbagi para penyembah kubur adalah mengharapkan pembelaan dan syafaat. Seakan-akan mereka lebih mengetahui dari Allah dan Rasul-Nya tentang syafaat.

Hal ini persis seperti alasan kaum musyrikin jahiliyah semasa Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam diutus. Padahal Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah mengajarkan akan hal itu? Bahkan beliau melarang umatnya dari perbuatan-perbuatan seperti itu. Apakah mereka mau mengajari Allah tentang agama ini?! Ingatlah! Agama ini milik Allah. Untuk itu seluruh amalan, bentuk dan tata cara ibadah sudah seharusnya sesuai dengan aturan dari Allah dan utusan-Nya

Perhatikan firman Allah berikut:
وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاَءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لاَ يَعْلَمُ فِي السَّمَوَاتِ وَلاَ فِي اْلأَرْضِ سُبْحَانَه ُوَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ. يونس: 18
Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah". Katakanlah: "Apakah ka-mu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka sekutukan (itu). (Yunus: 18)

Ketahuilah, bahwa syafaat atau pembe-laan memang diakui keberadaannya. Hal itu akan terjadi pada hari kiamat kelak, khusus-nya pembelaan dan syafaat dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam yang dikenal dengan syafa’atul udzma. Na-mun harus kita ketahui bahwa syafaat dan pembelaan terhadap seseorang di hadapan Allah tidak mungkin akan terwujud kecuali dengan seizin Allah. Demikian pula tidak mungkin seseorang mendapatkan syafaat atau pembelaan dari orang lain kecuali dari orang-orang yang diridlai oleh Allah Azza wa Jalla.

Allah Azza wa Jalla memerintahkan agar Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam memperingatkan manusia akan adanya hari perhitungan dan hisab, dimana pada hari itu tidak bermanfaat syafa’at dan pembelaan siapapun.
وَأَنْذِرْ بِهِ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْ يُحْشَرُوا إِلَى رَبِّهِمْ لَيْسَ لَهُمْ مِنْ دُونِهِ وَلِيٌّ وَلاَ شَفِيعٌ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ. (الأنعام: 51
Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Tuhannya (pada hari kiamat), sedang bagi mereka ti-dak ada seorang pelindung dan pemberi syafaat pun selain daripada Allah, agar me-reka bertakwa. (al-An’am: 51)

Dalam ayat ini disebutkan bahwa mereka yang tidak mau mengindahkan peringatan dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam akan diadzab dan tidak akan ada seorang pun yang dapat membe-lanya. Dalam ayat ini pula seakan-akan menunjukkan tidak adanya syafa’at pada hari kiamat. Namun yang dimaksud adalah tidak adanya syafaat bagi orang-orang kafir atau orang-orang yang tidak diberikan izin dan keridlaan dari Allah.

Di dalam ayat lain Allah menyatakan bahwa syafaat seluruhnya milik Allah. Oleh karena itu janganlah dengan alasan tersebut mereka meminta kepada kuburan-kuburan orang-orang shalih atau berdoa kepada orang mati. Berdoa dan mintalah kepada Allah, karena Dia-lah yang telah menentukan siapa yang boleh memberikan pembelaan dan siapa yang diridlai untuk mendapatkan pembelaan.
أَمِ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ شُفَعَاءَ قُلْ أَوَلَوْ كَانُوا لاَ يَمْلِكُونَ شَيْئًا وَلاَ يَعْقِلُونَ. قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا لَهُ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ. الزمر: 44
Bahkan mereka mengambil sesembahan se-lain Allah sebagai pemberi syafa'a. Katakan-lah: "Apakah (kamu mengambilnya juga) meskipun mereka tidak memiliki sesuatupun dan tidak berakal?" Katakanlah: "Hanya ke-punyaan Allah syafaat itu semuanya. Kepu-nyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemu-dian kepada-Nyalah kamu dikembalikan" (az-Zumar: 43-44)

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ مَا لَكُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلاَ شَفِيعٍ أَفَلاَ تَتَذَكَّرُونَ. السجدة: 4
Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya da-lam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Tidak ada bagi kamu selain da-ri padaNya seorang penolongpun dan ti-dak (pula) seorang pemberi syafa'at. Maka apa-kah kamu tidak memperhatikan? (as-Sajdah: 4)

Adapun jika dalam al-Qur’an terdapat ayat dan dalil-dalil yang menetapkan adanya syafaat, maka yang dimaksud adalah syafaat yang terjadi setelah mendapatkan izin dari Allah Azza wa Jalla:
مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ. البقر: 255
Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? (al-Baqarah: 255)

وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَوَاتِ لاَ تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلاَّ مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى. النجم: 26
Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna, ke-cuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya). (an-Najm: 26)

Dalam ayat kursi, ayat teragung dalam kitab Allah di atas, secara umum dinafikan adanya syafaat kecuali bagi orang-orang yang telah diizinkan. Sedangkan dalam surat an-Najm dijelaskan bahwa malaikat pun tidak dapat memberikan syafaat kecuali setelah diizinkan oleh Allah dan diperuntukan bagi orang yang diridlai-Nya.

Dari dua ayat di atas, jelaslah bahwa syafaat itu hanya milik Allah semata. Tidak ada yang berhak memberikan syafaat kecuali dengan seizin-Nya dan tidak akan menda-patkan syafaat kecuali orang yang diridlai-Nya. Untuk itu, bagi seorang yang cerdas dia hanya akan meminta syafaat kepada pemi-liknya. Meminta kepada Allah syafaat nabi-Nya dan syafaat atau pembelaan para malai-kat-Nya dan seterusnya.

Adapun meminta kepada selain Allah untuk mendapatkan pembelaan di hari kiamat, maka ini adalah inti dari kesyirikan yang terjadi pada zaman jahiliyah yaitu za-man kebodohan. Biasanya, alasan kaum musyrikin menyembah sesuatu, baik kuburan, orang yang telah mati, tempat-tempat atau benda-benda yang dianggap keramat dan lainnya adalah karena menganggap sesem-bahan tersebut memiliki apa yang mereka minta, atau dianggap ikut andil dalam memiliki, atau dianggap yang ikut membantu dan bekerjasama dengan pemiliknya, atau dianggap dapat membelanya di hadapan sang pemilik pada hari kiamat kelak.

Semua alasan dan anggapan tersebut ditiadakan dan dibantah oleh Allah Azza wa Jalla dalam ayat-Nya:
قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ. وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ... سباء: 22-23
Katakanlah: "Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki seberat zarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi. Dan sekali-kali tidak ada di an-tara mereka yang menjadi pem-bantu bagi-Nya. Dan tiadalah berguna syafa'at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa'at itu… (Saba’: 22-23)

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Allah Azz wa Jalla telah memutus semua alasan-alasan yang dipegang oleh kaum musyrikin. Seorang musyrik mengambil sesembahannya hanyalah karena apa yang diharapkannya dari manfaat. Sedangkan manfaat tersebut tidak akan didapati, kecuali jika sesembahan tersebut memi-liki salah satu dari empat kriteria:
1. Bisa jadi karena sesembahan tersebut di-anggap pemilik dari apa yang diinginkan oleh penyembahnya.
2 Sesembahan tersebut dianggap bersekutu dengan pemiliknya (Allah).
3. Sesembahan tersebut dianggap sebagai pembantunya.
4. Sesembahan tersebut dianggap dapat men-jadi pembelanya di hadapan sang pemilik.
Maka Allah meniadakan keempat alasan tersebut dengan peniadaan yang berurutan, berpindah dari yang paling tinggi kepada yang di bawahnya. Pertama, Allah membantah adanya pemilik selain Dia. Kemudian menia-dakan adanya sekutu yang bersekutu dengan-Nya. Kemudian meniadakan pula adanya pembantu bagi Allah dan terakhir meniada-kan pula syafaat yang diharapkan oleh si musyrik tersebut. Setelah itu Allah mene-tapkan adanya syafaat, dimana kaum musy-rikin tidak akan mendapatkan bagian dari-padanya. Yaitu syafaat orang yang diizinkan untuk orang yang diridlai.

Yang berhak memberikan syafaat

Kalau begitu siapakah yang paling mulia mendapatkan izin dari Allah Azza wa Jalla untuk memberikan syafaat? Dan siapakah yang paling berbahagia mendapatkan keridlaan dari Allah sehingga mendapatkan syafaat dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam?

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam adalah manusia yang paling mulia yang diizinkan oleh Allah untuk memberikan syafaat dikala orang-orang lain tidak sanggup untuk melakukannya. Inilah syafaat yang paling besar, dimana para rasul yang termasuk ulul azmi pun tidak sanggup memikulnya pada saat seluruh manusia me-minta kepada para nabi untuk memintakan keringanan di hadapan Allah di padang mah-syar yang sangat berat. Mereka semuanya menolak dan mengatakan: “nafsi nafsi” (diri-ku, diriku). Hingga akhirnya ketika mereka mendatangi Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam, maka Rasulullahshalallahu 'alaihi wa sallam mengatakan: “Ana laha” (itulah bagianku). Kemudian Rasulullah sujud di hadapan Allah, di bawah Arsy-Nya. Beliau memuji Allah dan menyanjungnya dengan pujian-pujian yang tidak pernah diucapkan sebelumnya oleh siapapun. Hingga kemudian Allah berfirman:
يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ وَاسْأَلْ تُعْطَهُ وَاشْفَعْ تُشَفَّعُ
Ya Muhammad angkatlah kepalamu, min-talah akan Aku beri dan berilah syafaat Aku akan memberikannya.”

Maka Rasulullah pun mengangkat kepalanya dan berkata: “Umatku, umatku”. Kemudian diperintahkan dengan segera kepada orang-orang dari umatnya yang tidak ada hisab pa-danya untuk masuk ke dalam surga.

Beliau melakukannya lagi, hingga diizinkan untuk memberikan syafaat. Beliau meminta agar disegerakan bagi ahli surga dari umatnya untuk segera memasukinya.
Selanjutnya Rasulullahshalallahu 'alaihi wa sallam melakukannya kembali dan kemudian beliau memberikan syafaat bagi para pelaku maksiat dari umat-nya yang seharusnya mendapatkan adzab dalam neraka untuk tidak memasukinya.

Kemudian beliau memberikan syafaat kepada orang-orang yang telah masuk neraka, namun masih memiliki tauhid dan keimanan untuk diselamatkan dari api neraka. Yang terakhir, syafaat Rasulullah untuk penduduk surga agar ditambahkan pahala mereka dan diangkat derajat mereka.

Hadits-hadits tentang syafaat ini muta-watir dalam Shahih Bukhari, Shahih Muslim dan lain-lainnya.

Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa seluruh syafaat dan pembelaan Rasulullah tersebut diberikan kepada orang-orang yang bertauhid dan tidak melakukan kesyirikan-kesyirikan. Hal itu sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang shahih dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, ketika beliau bertanya kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam :
مَنْ أَسْعَدَ النَّاسُ بِشَفَاعَتِكَ؟ قَالَ: مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهِ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ. (أخرجه البخاري والنسائ وأحمد
Siapakah orang yang paling berbahagia mendapatkan syafaatmu? Beliau menjawab: “Orang-orang yang mengucapkan لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهِ dengan ikhlas dari hatinya”. (HR. Bukhari , Nasai dan Imam Ahmad)

Seorang yang ikhlas mengucapkan
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهِ adalah mereka yang tidak merusak kalimat tersebut dengan kesyirikan-kesyirikan. Sebagaimana dalam riwayat lain dika-takan bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ. فَتَجْعَلْ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّيْ اخْتَبَأْتُ شَفَاعَةً ِلأُمَّتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِِ. فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ الله مَنْ مَاتَ لَمْ يُشْرِكْ بِاللهِ شَيْئًا. (أخرجه مسلم
Setiap nabi memikiki doa yang dikabulkan, dan mereka telah menyebutkan doa tersebut, sedangkan aku menundanya sebagai syafaat bagi umatku pada hari kiamat. Maka sya-faat ini pasti akan didapatkan insya Allah oleh orang yang mati dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun. (HR. Muslim dalam Shahihnya)

Dengan demikian jelaslah bahwa orang yang meminta syafa’at kepada kuburan-ku-buran para nabi atau pada kuburan orang-orang yang shalih justru tidak akan menda-patkan syafa’at karena perbuatan syiriknya tersebut.

Wallahu a’lam

 muhammad-assewed.blogspot.com

Islam Memuliakanmu Wahai Wanita

Islam Memuliakanmu Wahai Wanita
Oleh: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah –hafizhahullah-

Sebuah hembusan syubhat dan tuduhan kosong yang datang dari arah orang-orang kafir dan munafik serta orang-orang yang tertipu dengan mereka bahwa Islam merendahkan martabat wanita, memperbudaknya, menghinakan, menekannya, menzhaliminya, mengungkungnya, serta berbagai macam tuduhan keji lainnya.
Tuduhan keji ini tiada gunanya. Ia hanyalah angin lalu dan lalat busuk yang akan pergi sendiri setelah nyatanya kebenaran!!
Islam adalah agama yang datang dari Allah Sang Pencipta yang mengetahui segala seluk-beluk makhluk ciptaannya serta segala hajat dan kemaslahatan mereka. Dialah yang mengatur posisi dan kedudukan makhluknya, termasuk kedudukan wanita dan lelaki. Allah telah menempatkan mereka dengan penempatan yang adil dan bijak, bukan curang dan khianat!!
Jika ingin melakukan studi secara seksama dari lembaran-lemabran Al-Qur’an, maka kita akan mendapati pengaturan maha hebat dalam memuliakan kaum wanita. Sehingga haram hukumnya seorang muslim menuduh bahwa Islam telah menzhalimi wanita. Bahkan para wanita belum pernah dimuliakan dalam sejarah bangsa kafir sebagaimana ia dimuliakan oleh Islam.
Lihat saja –sebagai contoh- Allah -Subhanahu wa Ta’ala- memerintahkan kaum lelaki selaku suami agar memperlakukan wanita dengan cara yang ma’ruf.
Allah -Azza wa Jalla- berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آَتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا  [النساء/19]
“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mewarisi wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menghalangi mereka (dari menikahi orang lain setelah menalaknya), karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata[1]. Dan Pergaulilah mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah), karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”. (QS. An-Nisaa’ : 19)
Menurut adat sebahagian Arab Jahiliyah apabila seorang meninggal dunia, maka anaknya yang tertua atau anggota keluarganya yang lain mewarisi janda itu. Janda tersebut boleh dikawini sendiri oleh si anak atau dikawinkan dengan orang lain, tapi maharnya diambil oleh pewaris atau tidak dibolehkan kawin lagi. [Lihat Fathul Qodir (2/106) karya Al-Imam Asy-Syaukaniy]
Islam datang menghapuskan aturan jahiliah yang merendahkan dan menyusahkan para wanita. Sebab para wanita, mereka sejajarkan dengan barang (benda) warisan atau mirip budak. Bahkan para wanita diberikan kebebasan oleh Allah untuk menikahi lelaki usai masa iddah, bila ditinggal mati oleh sang suami atau ditinggal karena talak. Ayat ini melarang suami menahan istri dan membuatnya terkatung-katung sehingga membuat ia terzhalimi. Ayat ini turun sebagai pelajaran bagi kaum lelaki bahwa tidak boleh membuat istri terkatung-katung. Jika memang tidak menyukainya, maka ceraikan dengan cara yang baik. Jangan nanti diceraikan saat ia minta dicerai sehingga terjadi khulu’ (permintaan cerai dari pihak istri). Jika terjadi cerai, maka ia pun harus membayar fidyah.
Islam telah menjaga hak-hak para wanita dan menempatkan mereka pada kedudukan yang amat tinggi, walaupun kaum lelaki tentunya lebih ditinggikan oleh Allah -Azza wa Jalla-. Sehingga sebuah kekeliruan besar jika sebagian orang menuduh Islam telah merendahkan martabat para wanita, mengungkungnya, dan menyepelekannya.
Sakingnya mulianya wanita di dalam Islam, Allah -Azza wa Jalla- mewajibkan para wanita menutupi seluruh badannya dengan jilbab yang syar’iy dan benar, bukan jilbab gaul yang ketat lagi transparan. Apa hikmahnya? Hikmahnya agar para wanita terhormat dan tidak menjadi bulan-bulanan dan permainan bagi para lelaki jahat dan berpenyakit hati.
Allah -Ta’ala- berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا [الأحزاب/59]
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan wanita-wanita orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab : 59)
Al-Imam Abu Hayyan Al-Andalusiy -rahimahullah- berkata,
“Kebiasaan kaum jahiliah dulu bahwa wanita dan budak mereka keluar dalam keadaan tampak wajahnya saat menggunakan pakain dan kerudung. Sementara orang-orang yang suka berzina suka menghadang para budak wanita, bila para wanita keluar di waktu malam untuk buang air di sela-sela pohon kurma dan tempat-tempat cekung. Terkadang mereka menghadang para wanita merdeka dengan alasan itu budak seraya berkata, “Kami menyangkanya budak!!”. Maka wanita muslimah pun  (setelah datangnya Islam) diperintahkan untuk membedakan cara berpakaian mereka dengan para budak wanita dengan menggunakan pakaian dan penutup serta menutup kepala dan wajah agar mereka disegani dan tidak lagi diincar. Diriwayatkan bahwa dulu di Kota Madinah ada suatu kaum yang suka duduk di tempat-tempat tinggi demi mengintip para wanita, menghadang dan menggoda mereka. Lalu turunlah ayat ini”. [Lihat Al-Bahr Al-Muhith (7/205), cet. Dar Al-Fikr]
Perhatikanlah keindahan Islam dalam memuliakan para wanita. Semua ini membantah segala tuduhan keji dan opini buruk bahwa Islam merendahkan para wanita.
Para wanita ditutup dan dijaga rapi badannya agar jangan dijadikan komoditi dagang murahan di depan para lelaki hidung belang dan play boy.
Lirik juga pemuliaan Islam terhadap wanita dalam hal pekerjaan. Para lelaki sebagai suami diberi kewajiban mencari nafkah bagi istri dan anak-anaknya agar Istri tidak keluar rumah sehingga bercampur baur dengan kaum lelaki yang bukan mahramnya di lapangan kerja. Cukup mereka membantu suami di rumah mendidik anak, mengurusi rumah tangga dan hajat suami yang mampu mereka selesaikan di rumah. Ini bukanlah larangan keluar secara mutlak sebagaimana yang dipahami oleh orang jahil. Boleh mereka keluar dari rumah bila ada hajat yang amat penting, seperti belajar, sholat, berjihad atau perkara lainnya yang dibenarkan oleh agama. Jika tidak ada hajat yang amat penting, maka sebaiknya mereka bersabar di rumah. Sebab keluarnya wanita dari rumah, sering menimbulkan berbagai macam problema sosial. Wanita dengan segala kelembutan dan kemolekannya seringkali menggoda dan menggelincirkan kaum lelaki, baik para wanita sadari atau tidak.
Allah -Azza wa Jalla- berfirman kepada para wanita,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآَتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ [الأحزاب/33]
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya”. (QS. Al-Ahzab : 33)
Jika para wanita bersabar tinggal di rumah membantu pekerjaan orang tua atau suami bila sudah bersuami. Semua ini adalah ibadah dan ketaatan yang akan diberi balasan besar bila para wanita melakukannya karena taat kepada Allah.
Al-Imam Ibnu Asyur Al-Malikiy -rahimahullah- berkata saat menjelaskan perintah tinggal di rumah bagi para wanita, “Ini adalah perkara yang dikhususkan bagi mereka, yakni wajibnya tinggal di rumah mereka sebagai bentuk pemuliaan bagi mereka dan penguat bagi bagi kesucian mereka. Jadi, tinggalnya mereka di rumah-rumah mereka adalah ibadah”. [Lihat At-Tahrir wa At-Tanwir (11/247)]
Adapun sikap kaum kafir terhadap wanita, maka mereka menginginkan agar para wanita keluar dari rumah kemuliaannya, lalu keluar menyaingi kaum lelaki dalam mengerjakan banyak job yang semestinya ditangani kaum lelaki. Di tempat kerja mereka bercampur baur dan saling bermuamalah bebas. Jangan heran bila banyak kerusakan sosial timbul di masyarakat. Semua itu akibat bebasnya wanita bekerja di luar rumah.
Itulah hasil emansipasi barat yang melanda negeri kita yang tercinta ini. Kini meninggalkan jejak dan bekas buruk di masyarakat Islam –secara khusus- dan seluruh masyarakat –secara umum-. Wallahul musta’an.
Gerakan dan propaganda yang mengeluarkan wanita dari rumahnya, lalu keluar kemana-mana dengan bebas, sebenarnya sudah ada sejak dahulu kala. Sehingga mereka pun karenanya.
Syaikh Sholih bin Abdillah Al-Fauzan –hafizhahullah- berkata,
“Sikap orang-orang kafir terhadap wanita pada hari ini sama dengan sikap mereka kemarin. Mereka ingin agar para wanita menangani pekerjaan-pekerjaan kaum lelaki yang wanita tidak dicipta untuk itu dan memang mereka tidak punya kesiapan dalam menanganinya. Orang-orang kafir ingin agar para wanita keluar dari kemuliaan dan kesuciannya. Mereka ingin agar wanita terpajang di depan mereka sehingga mereka dapat bersenang-senang dengan para wanita dengan murahan selama wanita itu masih hijau (muda). Namun bila sudah layu (tua), maka akan membuangnya bersama sampah-sampah!! Akhirnya, jatuhlah perhiasan itu (yakni, wanita) sampai ia mati dalam kondisi hina dan rendah”. [Lihat Al-Mar'ah baina Takrim Al-Islam wa Da'aawa At-Tahrir (84-85) karya Muhammad bin Nashir Al-Uroiniy, cet. Mathba'ah Safir, 1420 H]
Para pembaca yang budiman, kemuliaan wanita semakin diangkat dengan pendidikan yang mereka harus kecap sebagaimana halnya lelaki.
Allah -Azza wa Jalla- berfiman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ [التحريم/6]
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS. At-Tahrim : 06)
Al-Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thobariy -rahimahullah- berkata dalam menafsirkan ayat ini,
“Ajarilah sebagian orang atas sebagian yang lainnya sesuatu yang dapat kalian gunakan dalam melindungi orang yang kalian ajari dari neraka dan menghalau neraka darinya jika ia menagamalkannya berupa ketaatan kepada Allah dan lakukanlah ketaatan kepada Allah”.[Lihat Jami' Al-Bayan (23/491), cet. Mu'assasah Ar-Risalah]
Kemudian Ath-Thobariy menyebutkan sebuah atsar dari sahabat Ali bin Abi Tholib -radhiyallahu anhu- bahwa maknanya “…peliharalah…” adalah ajarilah dan didiklah mereka.
Ini menunjukkan bahwa Islam dari dulu sudah mendorong para suami dan penanggung jawab keluarga agar mereka mendidik keluarganya agar mereka selamat di dunia dan akhirat dari neraka.
Ini membungkam mulut para pendusta yang menyatakan bahwa Islam tidak memberikan pendidikan kepada wanita. Sehingga mereka pun secara dusta menyatakan bahwa perempuan harus dientaskan dari keterbelakangan dan kebodohannya. Muncullah istilah emansipasi wanita. Seakan-akan wanita tidak diperhatikan dalam Islam, lalu orang-orang kafir itulah yang memperhatikan para wanita dan memberikan pendidikan kepada kaum wanita!!
Diantara pemuliaan Islam terhadap kaum wanita, Allah menjaga dan menetapkan bagian warisan mereka di dalam Islam. Adapun di zaman jahiliah, maka mereka tidak mendapatkan warisan, bahkan mereka ikut diwarisi. Bagian-bagian mereka telah dijelaskan oleh Allah di awal-awal lembaran Surah An-Nisaa’.
Pembagian yang adil ini datang dari Allah Sang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Di dalamnya tidak ada kecurangan sedikit pun. Allah menetapkan perbedaan bagian bagi setiap manusia berdasarkan hajat dan kemaslahatan mereka menurut ilmu Allah -Azza wa Jalla-.
Kemudian sisi lain yang kadang kurang diperhatikan orang bahwa Allah memerintahkan wanita sebagaimana hal pria agar menundukkan pandangannya dari semua perkara yang haram dilihat demi menjaga dan memuliakan wanita.
Allah -Ta’ala- berfirman,
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (30) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُن [النور : 30 ، 31]
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya”. (QS. An-Nuur : 30-31).
Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata,
“Ini adalah perintah dari Allah -Ta’ala- bagi para hamba-Nya yang beriman agar mereka menundukkan sebagian pandangan mereka dari sesuatu yang diharamkan bagi mereka. Jadi, janganlah mereka melihat, kecuali kepada sesuatu yang Allah halalkan untuk dilihat oleh mereka. Allah juga perintahkan agar menundukkan pandangan mereka dari perkara-perkara haram (untuk dilihat). Jika kebetulan matanya melihat sesuatu yang diharamkan, tanpa sengaja, maka hendaklah ia memalingkan pandangannya dari hal itu dengan secepatnya”. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (6/41)]
Inilah petunjuk Islam bagi mata para lelaki dan wanita sebagai bentuk penjagaan terhadap syahwat mereka agar tidak terjerumus dalam kehinaan. Mereka harus memalingkan mata dari yang haram –misalnya, wanita bukan mahram-, bila bertemu di jalan. Kalau pun melihatnya karena tidak sengaja, maka segera palingkan mata ke arah lain. Ini sesuai petunjuk dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada umatnya.
Dari Jarir bin Abdillah Al-Bajaliy -radhiyallahu anhu- berkata,
سألت النبي صلى الله عليه وسلم، عن نظرة الفجأة، فأمرني أن أصرفَ بَصَري.
“Aku bertanya kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- tentang pandangan spontan (tiba-tiba). Beliau memerintahkanku untuk memalingkan pandanganku”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2159)]
Semua ini adalah bentuk penjagaan dan pemuliaan kepada wanita dari kubang-kubang kehinaan.
Inilah sebagian dari pemuliaan Islam terhadap wanita. Jika kita ingin menghitungnya satu-persatu, maka perlu waktu yang panjang. Semoga saja suatu saat kami akan angkat lagi sebagiannya pada waktu lain.

sumber: www.almakassari.com

             Tegar Menyampaikan Kebenaran


Penulis : Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah
Mendakwahkan dan menyampaikan kebenaran adalah perkara besar. Tidak setiap orang layak menyandangnya, sebab dakwah butuh kesabaran dan pengorbanan harta benda dan jiwa. Seorang yang menyampaikan kebenaran harus istiqomah dalam dakwahnya agar ia senantiasa didoakan dan diiringi oleh para malaikat dalam dakwahnya.
Allah -Azza wa Jalla- berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ (30) نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ (31) نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ (32) وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (33)  [فصلت/30-33]
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami adalah Allah” Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu”.  Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta sebagai hidangan (bagimu) dari Rabb yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang berdakwah (menyeru) kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat : 30-33)
Perhatikanlah orang-orang yang istiqomah (tegar) di atas amal ketaatan kepada Allah; ia akan selalu diiringi pertolongan dari Allah -Subhanahu wa Ta’ala- dan dilapangkan dadanya oleh Allah -Azza wa Jalla-.
Al-Imam Abul Faroj Abdurrahman Ibnul Jawziy -rahimahullah- berkata saat menerangkan makna ucapan para malaikat yang terdapat dalam ayat-ayat di atas,
“Maknanya, kamilah yang akan menjadi pengurus-pengurus kalian di dunia. Karena, para malaikat hanyalah mengurusi dan mencintai orang-orang beriman, disebabkan oleh sesuatu yang mereka lihat berupa amal-amal sholih mereka yang terangkat ke langit. Di akhirat nanti kami akan bersama kalian, tidak akan meninggalkan kalian sampai kalian masuk surga”. [Lihat Zaadul Masir (5/304) oleh Ibnul Jauziy Ad-Dimasyqiy]
Sebagian para muballigh dan da’i ada yang melanggar ayat-ayat ini sehingga merekapun segan menyampaikan kebenaran, bahkan berusaha menyembunyikannya bila mereka berdakwah di tengah masyarakat. Apalagi jika mereka berdakwah di tengah orang-orang yang memiliki kedudukan dan kharisma di masyarakat. Tujuannya bukanlah menyampaikan kebenaran. Tujuannya hanyalah menyenangkan masyarakat dan mengikuti selera mereka, dengan dalih bahwa ia mengikuti selera mereka, walaupun itu maksiat, demi mendekati dan menarik hati mereka.
Jalan dakwah seperti ini menyalahi jalan dakwah yang pernah digariskan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa tugas seorang da’i adalah menyampaikan amanah dakwah dari Allah, tanpa mengikuti hawa nafsu manusia.
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,
قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ  [النور : 54]
“Katakanlah: “Taat kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang“. (QS. An-Nuur : 54)
Seorang da’i bukanlah diktator yang memaksakan manusia seluruhnya harus beriman!! Sebab keimanan itu adalah hidayah. Sedang hidayah hanyalah di tangan Allah. Kita sebagai da’i hanyalah diperintahkan menyampaikan tugas dakwah dan penjelasan kepada manusia tentang jalan kebenaran yang harus diikuti dan jalan kebatilan dan keburukan yang harus dijauhi!!
Allah -Azza wa Jalla- berfirman
فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ (21) لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ (22) [الغاشية : 21 ، 22]
Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.  Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka“.

Sebuah kesalahan besar bila seorang berdakwah dengan memegang prinsip bahwa dirinya siap menjadi “bagaikan lilin yang meleleh yang rela menghancurkan dirinya demi menerangi yang lain“. Prinsip seperti ini adalah prinsip yang batil. Allah telah mencela Bani Israil yang telah manusia, namun ia mengorbankan dirinya dan melakukan maksiat.
Allah -Ta’ala- berfirman,
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ  [البقرة : 44]
“Mengapa kalian suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri. Padahal kalian membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqoroh : 44)
Al-Imam Abul Khoththob Qotadah bin Di’amah As-Sadusiy -rahimahullah- berkata,
كان بنو إسرائيل يأمرون الناس بطاعة الله وبتقواه وبالبر ويخالفون، فعيرهم الله.
“Dahulu Bani Isra’il memerintahkan manusia untuk berbuat ketaatan dan bertaqwa kepada Allah serta berbakti kepada-Nya. Namun mereka menyelisihinya. Karenanya, mereka dikecam oleh Allah”. [HR. Ath-Thobariy dalam Jami' Al-Bayan (843) dengan sanad yang hasan]
Inilah keadaan sebagian da’i yang tidak konsisten dan tegar memegang prinsip-prinsip agama dalam berdakwah, sehingga ia pun mengikuti selera masyarakat yang ia dakwahi. Jika masyarakatnya senang musik, maka ia pun “menghalalkan” musik demi menjaga perasaan mereka agar tidak tersinggung dan menjauh dari agama dan dakwah Islam. Jika masyarakatnya senang berbuat bid’ah, maka ia pun sengaja larut di dalamnya demi menjaga kemaslahatan dakwah, menurut sangkaannya!! Jika rakyat suka melawak dan melucon, maka ia pun mengubah dirinya sebagai “pelawak”, bahkan lebih dari sekedar pelawak!!! Padahal ia tahu bahwa melawak bukanlah jalan dakwah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Bahkan beliau melarang kita banyak tertawa.
Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
لَا تُكْثِرُوْا الضَّحْكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحْكِ تُمِيْتُ الْقَلْبِ
Janganlah kalian memperbanyak tertawa karena memperbanyak tertawa bisa mematikan hati“. [HR. At-Tirmidzy dalam Sunan-nya (2305) dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (4193). Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (506)]
Jika masyarakat senang menonton film, maka mereka pun membuat sandiwara dan film sebagai jalan dakwah yang mereka tempuh. Padahal Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- tidak pernah mencontohkan dakwah melalui sandiwara dan pertunjukan.
Para pembaca yang budiman, seorang da’i harus tegar dalam dakwahnya, jangan goyah dengan macam rintangan yang akan melencengkan dirinya dari petunjuk Allah -Azza wa Jalla- dan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-.
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
(ألا لا يمنعن رجلا هيبةُ الناسِ أنْ يقولَ بحقٍّ إذا عَلِمَه)
“Ingatlah, wibawa manusia janganlah menghalangi seseorang dari mengucapkan kebenaran, bila ia mengetahuinya”. [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2191) dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (4007). Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib wa At-Tarhib (2751)]
Ulama Negeri Syaikh, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy -rahimahullah- berkata,
“Di dalam hadits ini terdapat larangan kuat dari menyembunyikan kebenaran, karena takut kepada manusia atau karena ingin kehidupan dunia. Setiap orang yang menyembunyikannya, karena takut gangguan mereka dengan suatu jenis gangguan, seperti, pemukulan, celaan, diputuskannya rezki, atau karena takut kalau manusia tidak menghormatinya dan sejenis itu, maka orang seperti ini masuk dalam larangan ini dan ia menyelisihi Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.
Jika demikian halnya keadaan orang yang menyembunyikan kebenaran, sedang ia tahu. Nah, bagaimana lagi dengan kondisinya orang yang tidak cukup melakukan hal itu. Bahkan ia memberikan persaksian batil atas kaum muslimin yang bersih (dari tuduhan) dan menuduh mereka dalam agama dan aqidahnya demi sejalan dengan orang-orang rendahan atau karena takut jika mereka menuduhnya juga dengan batil jika ia tidak sejalan dengan mereka di atas kesesatan dan tuduhannya”. [Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (1/325)]
Para pembaca yang budiman, sesungguhnya dakwah Islam yang diemban oleh seorang da’i adalah dakwah yang universal, mencakup semua golongan, baik rakyat, maupun pemerintah. Di saat rakyat butuh bimbingan, maka kita ajak ia kepada kebaikan. Demikian pula, ketika penguasa memerlukan nasihat dan arahan, maka seorang da’i harus mengarahkan mereka kepada jalan-jalan kebaikan yang ia ketahui. Janganlah ia menyembunyikan kebenaran di depan pemerintah, karena segan dan takut. Jangan pula bertoleransi dan mencari-cari muka dan menjilat di depan mereka sampai harus meninggalkan dan menyelisihi petunjuk Allah dan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-.
Tapi bersabarlah menghadapi dan mendakwahi mereka, karena sesungguhnya nasihat bagi mereka merupakan jihad yang paling utama. Sebab, dengan baiknya mereka, maka ikut baiklah seluruh rakyatnya.
Jangan gentar dengan ancaman dan kekuatan mereka. Masuklah menghadap kepadanya dengan segala adab-adab yang baik dalam menasihatinya. Nasihatilah pemerintah dengan nasihat yang tersembunyi, dengan kalimat yang lembut dan penuh kasih sayang sambil mengingatkan akibat yang akan ia rasakan dan masyarakatnya jika senantiasa durhaka kepada Allah -Azza wa Jalla-. Yakinlah dengan usaha dan tawakkal yang benar, nasihatmu –wahai para da’i- akan diterima oleh mereka. Jika mereka menolaknya, maka bersabarlah kalian.
Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
مَنْ َأَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلا َيُبْدِ لَهُ عَلاَنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فََذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى اَلَّذِيْ عَلَيْهِ لَهُ.
“Barangsiapa ingin menasihati penguasa dalam suatu perkara, maka janganlah ia menampakkan secara terang terangan. Akan tetapi hendaknya ia ia mengambil tangannya agar ia bisa berduaan. Jika ia terima ,aka itulah yamg diharap, jika tidak maka sungguh ia telah menunaikan tugas yan ada pada pundaknya”. [HR Ahmad dalam Al-Musnad (3/403-404) dan Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (1096, 1097, 1098). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Zhilal Al-Jannah (hal. 514)]
Al-Imam Muhammad bin Ali As-Syaukaniy -rahimahullah- berkata, “Sesungguhnya bagi orang yang nampak baginya kesalahan penguasa dalam sebagian masalah agar ia menasihati penguasa, dan tidak menampakan celaan padanya didepan publik”.
[Lihat As-Sail Al-Jarrar (4/556) karya Al-Imam Muhammad bin Ali Asy-Syaukaniy]
Sekali lagi, lakukanlah tugas nasihat ini dengan penuh keikhlasan, sebab ia adalah amalan utama. Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
ألا إن أفضل الجهاد كلمة حق عند سلطان جائر”
“Ingatlah, sesungguhnya jihad yang paling utama, kalimat yang haq di sisi penguasa yang curang”. [HR. Abu Dawud (4344), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2174), Ahmad dalam Al-Musnad (3/19) dan Al-Qudho'iy dalam Musnad Asy-Syihab (no. 1141)]
Di hari-hari yang seperti ini, seorang muslim (khususnya, da’i) amat membutuhkan kesabaran dalam menghadapi dan mengatasi problematika umat yang tengah tenggelam dalam gulita maksiat.
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ.
“Akan datang suatu zaman, orang yang bersabar di atas agamanya laksana orang yang menggenggam bara api”. [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2260). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami' Ash-Shoghir (8002)]
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ ، فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا ، وَيُمْسِي كَافِرًا ، يَبِيعُ قَوْمٌ دِينَهُمْ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا قَلِيلٍ ، الْمُتَمَسِّكُ يَوْمَئِذٍ بِدِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ
“Kecelakaanlah bagi orang-orang Arab karena keburukan yang sungguh telah mendekat berupa fitnah-fitnah (ujian dan problema keimanan, pen.) ibarat potongan-potongan malam yang gulita. Seseorang beriman di waktu pagi dan menjadi kafir di waktu sore. Suatu kaum akan menjual agamanya dengan barang-barang dunia yang sedikit. Orang yang berpegang teguh dengan agamanya pada hari itu laksana orang yang menggenggam bara api”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/390), Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqo (70/35) dan Ibnu Wadhdhoh dalam Al-Bida' wan Nahyu anha (hal. 77). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syu'aib Al-Arna'uth dalam Takhrij Al-Musnad (no. )]
Al-Imam Ali bin Sulthon Al-Qoriy -rahimahullah- berkata,
“Lahiriah hadits ini bahwa maknanya, sebagaimana halnya tidak mungkin akan menggenggam bara api, kecuali dengan kesabaran yang tinggi dan menanggung kuatnya rasa susah, maka demikian pula di zaman itu, tidak mungkin dibayangkan seseorang menjaga agama dan cahaya imannya, kecuali dengan kesabaran yang besar dan rasa penat yang berat”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (6/445)]
Al-Imam Abu Ishaq Burhanuddin Umar bin Ibrahim Al-Ja’buriy -rahimahullah- berkata,
“Zaman ini adalah zaman kesabaran. Karena, sungguh perkara yang ma’ruf (yang baik) telah diingkari, perkara mungkar dikenal (yakni, dilakukan), niat telah rusak, sifat khianat telah tampak, orang memperjuangkan kebenaran disakiti dan orang yang memperjuangkan kebatilan dimuliakan”. [Lihat Mirqoh Al-Mafatih (15/307)]
Di akhir zaman seperti ini maksiat, kekafiran dan kesyirikan merajalela dan tersebar dimana-mana sampai semua pelanggaran ini menutupi kebaikan dan pelakunya. Orang-orang yang menjunjung tinggi sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan mengamalkannya dijauhi oleh manusia-manusia rusak. Mereka menganggap orang-orang yang mengamalkannya dianggap aneh oleh kaumnya.
Inilah yang pernah diisyaratkan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika beliau bersabda dalam sebuah haditsnya,
بَدَأَ اْلإِسْلاَمُ غَرِيْبًا وَسَيَعُوْدُ كَمَا بَدَأَ غَرِيْبًا فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali (asing), sebagaimana ia muncul dalam keadaan asing. Maka beruntunglah orang-orang asing”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 232)]
Islam asing dan aneh di mata manusia karena menyalahi hawa nafsu dan kejahilan mereka. Ketika seorang mengamalkan sunnah (ajaran) Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- di awal munculnya Islam, maka semua orang tersentak kaget dan heran sebagaimana kondisi di akhir zaman sekarang.
Jika sekarang ada pengikut sunnah (yakni, petunjuk) Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mengamalkan sunnah, seperti memanjangkan jenggot, dan menggunakan jilbab besar beserta cadar, maka banyak kaum muslimin yang berteriak kaget, dan menganggapnya asing alias aneh, menakutkan, ketinggalan zaman, dan lainnya!! Keasingan ini terjadi karena kebanyakan manusia menjauhi sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.
Kenapa mereka jauh? Mereka jauh karena kejahilan dan hawa nafsu menyelimuti mereka. Tapi keasingan ini sebenarnya adalah sunnatullah (ketentuan dari Allah -Azza wa Jalla-).
Al-Imam Abu Ishaq Asy-Syathibiy -rahimahullah- berkata, “Keterasingan ini adalah sunnatullah pada makhluk-Nya, yakni pengikut kebenaran dibandingkan pengusung kebatilan adalah jumlahnya sedikit berdasarkan firman-Nya -Ta’ala-,
وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ (103)
“Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman – walaupun kamu sangat menginginkannya-. (QS. Yusuf: 103)
وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ (13)
“Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih”. (QS. Saba’ : 13)
(Demikianlah) agar Allah membenarkan apa yang Dia janjikan kepada Nabi-Nya berupa kembalinya sifat keterasingan itu kepada Islam. Jadi, keterasingan itu tidak akan terjadi, kecuali karena hilangnya pengikut (kebenaran) atau sedikitnya mereka. Hal itu terjadi saat perkara yang ma’ruf berubah menjadi kemungkaran; kemungkaran berubah (dianggap) sebagai sesuatu yang ma’ruf; Sunnah dianggap bid’ah, dan bid’ah dianggap sunnah. Akhirnya, pengikut Sunnah diperhadapkan dengan cacian dan sikap keras sebagaimana nasibnya dahulu para pengusung bid’ah, karena adanya keinginan para pengusung bid’ah itu agar symbol kesesatan bias bersatu (kuat)”.[Lihat Al-I'tishom (1/12), tahqiq Masyhur Hasan Salman, cet. Maktabah At-Tauhid, 1421 H]
Jumlah kaum muslimin pada hari ini amat banyak. Hanya saja yang kita sesalkan, mayoritas dari mereka tidak mengetahui Islam yang pernah dibawa oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan disebarkan oleh para sahabat.
Lihatlah, ketika mereka diajak untuk meninggalkan kesyirikan, maka mereka menuduh kita sebagai “Wahabi”. Perkara ini amat jelas jika ada seorang yang bertauhid melarang kaum muslimin datang ke kuburan orang-orang “sholeh”, karena mereka kesana untuk melakukan kesyirikan, seperti bernadzar di kubur, mengharap pertolongan dan kesembuhan dari penghuni kubur, meminta dan berdoa kepada mayit. Inilah yang dilarang dalam Islam dalam firman-Nya,
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا
“Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyeru (berdoa) kepada seseorangpun di dalamnya di samping (menyeru) Allah”. (QS. Al-Jin: 18)
Perhatikan, saat kita menasihati mereka untuk meninggalkan maulid karena hal itu tidak ada tuntunannya dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, maka manusia akan kiamat. Bukankah Allah -Ta’ala- berfirman,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu”. (QS. Al-Maa’idah: 3)
Bila agama telah sempurna, maka kita tidak perlu menambahinya dengan amalan yang tidak ada tuntunannya dalam agama -seperti, maulid-, sebab amalan yang tidak ada tuntunannya dalam agama akan tertolak, tidak mendapatkan pahala, bahkan akan dimintai pertanggungjawaban!!
Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌ
“Barang siapa yang mengadakan suatu perkara (baru) dalam urusan (agama) kami ini yang bukan termasuk darinya,maka perkara itu tertolak”.[HR.Al-Bukhory dalam Shohih-nya (2697)]
Para pembaca yang budiman, para wanita ketika diajak mengenakan pakaian wanita muslimah yang syar’iy, maka mereka menolaknya dengan seribu alasan. Sehingga kita tidak bisa lagi membedakan antara wanita muslimah dan wanita kafir. Jika kalian berbelanja di mall-mall dan pusat perbelanjaan lainnya, maka kalian akan menyaksikan wanita-wanita kita berseliweran dan bekerja disana. Awal kita melihat mereka, kita menyangkanya wanita kafir, karena ia tidak berjilbab, dan ia bersolek ala wanita kafir. Tapi kita akan terperanjat ketika mengetahui bahwa ia adalah muslimah. Bukankah seorang wanita diperintahkan mengenakan jilbab yang tebal dan lebar sebagaimana dalam firman Allah -Ta’ala-,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan wanita-wanita orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Ahzab: 59).
Ketika para wanita kita diajak berjilbab yang syar’iy, maka mereka enggan dan menolak dengan dalih “kurang bebas”, “tidak modern, kuno!!”, “panas dan pengap”, “tidak sesuai gaya anak muda”, dan sederet alasan lemah.
Lebih ironis lagi, wanita-wanita ini muak dan sinis saat melihat saudari-saudari mereka bercadar dan mengenakan jilbab lebar dan tebal. Subhanallah, sudah salah, malah menyalahkan lagi orang yang tidak salah!!
Para pembaca yang budiman, inilah fenomena yang kita lihat di masyarakat Islam. Banyaknya orang-orang Islam yang melakukan pelanggaran. Sehingga semua hal ini menjadi sebab dan pemicu mereka membenci, menjauhi, dan memusuhi setiap orang yang memperjuangkan kebenaran yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Demikian hari-hari yang penuh kesusahan dan tekanan jiwa bagi para penegak kebenaran. Di hari-hari seperti inilah, orang-orang yang setia dan tegar memegang agama Islam yang murni, membutuhkan kesabaran.
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
إن من ورائكم أيام الصبر ، للمتمسك فيهن يومئذ بما أنتم عليه أجر خمسين منكم
“Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari kesabaran. Orang-orang yang berpegang teguh di dalamnya pada hari itu dengan sesuatu yang kalian pijaki, mendapatkan pahala 50 orang diantara kalian”. [HR. Ibnu Nashr Al-Marwaziy dalam As-Sunnah (no. 32). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 494)]
Sungguh di hari-hari ini kita membutuhkan kesabaran dalam mengamalkan sunnah (petunjuk) Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- di tengah keterasingan ajaran Islam di tengah pemeluknya sendiri. Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang tegar dan konsisten (istiqomah) dalam memegang teguh ajaran Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- yang murni sampai kita menjumpai beliau di telaganya, amiin…

sumber : www.almakassari.com